Kemarau Panjang, Pembudidaya Irit Pakan Ikan

Kotawaringin Timur – Musim kemarau dan menurunnya debit air mulai berdampak pada
aktivitas usaha perikanan budidaya di wilayah ini. Penurunan ketersediaan air menjadi salah
satu tantangan yang harus dihadapi para pembudidaya dalam menjaga kondisi kolam dan
kesehatan ikan.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Alam Salju
Sejahtera, Muhammad Aris, saat ditemui di kawasan Jalan Betang Raya, Kelurahan Pasir Putih,
Rabu (2 September 2026). Menurutnya, berkurangnya debit air selama musim kemarau
berpengaruh langsung terhadap ketinggian air di kolam budidaya.
“Debit air sangat turun, biasanya ketinggian air di kolam tampung capai dua meter lebih,
sekarang hanya 60–70 cm,” ujar Muhammad Aris.

Salah satu langkah yang dilakukan para pembudidaya adalah mengurangi jumlah pemberian
pakan ikan. Penyesuaian ini dilakukan untuk menjaga kualitas air kolam, mengingat kondisi
air yang lebih sedikit dapat meningkatkan konsentrasi limbah dari sisa pakan dan kotoran ikan
yang berpotensi menyebabkan peningkatan kadar amonia.
“Pemberian pakan harus dikurangi dan disesuaikan dengan kondisi ikan serta volume air
yang tersedia. Hal ini penting untuk mencegah amonia berlebih yang dapat mengganggu
Kesehatan dan kelangsungan hidup ikan,” tambahnya.

Di tengah kondisi tersebut, Muhammad Aris berharap adanya dukungan pemerintah berupa
pembangunan atau penyediaan sumur bor bagi kelompok pembudidaya ikan. Menurutnya,
keberadaan sumber air alternatif akan sangat membantu pembudidaya memenuhi kebutuhan
air kolam, khususnya saat debit air menurun pada musim kemarau.
“Kami berharap ada bantuan pemerintah berupa sumur bor, sehingga ketika debit air
menurun, kami lebih mudah menambah air ke kolam dan kegiatan budidaya tetap dapat
berjalan,” harapnya.

Kondisi ini menjadi perhatian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan usaha perikanan
budidaya di Kabupaten Kotawaringin Timur. Ketersediaan sumber air yang memadai menjadi
salah satu factor pendukung utama bagi pembudidaya dalam mempertahankan produktivitas
serta menjaga kualitas lingkungan budidaya, terutama di tengah kondisi cuaca yang semakin
tidak menentu.