PANEN IKAN NILA 100 KG TANPA GANTI AIR SISTEM BIOFLOK

OLEH MUHAMAD INDRA, S.Pi

Budidaya ikan Nila (Oreocromis niloticus) sistem bioflok merupakan salah satu Solusi paling masuk akal untuk lahan terbatas atau sempit, bahkan dapat menghemat air sampai 80%, tanpa harus melakukan penggantian air setiap hari, dan kotoran ikan dapat diubah menjadi makanan kembali untuk kebutuhan ikan. Sekarang, bagaimana caranya untuk membudidayakan ikan Nila sistem bioflok ini dilahan terbatas.

Berikut  contoh sederhana yang dapat dijadikan panduan dalam membudidayakan ikan Nila ramah lingkungan pada media kolam terpal bundar berdiamater 2 meter. kenapa  harus kolam bundar D2 dan Bioflok? Karena model kolam D2 sangat cocok bagi pemula atau bagi orang-orang yang baru mecoba atau memulai memelihara ikan, segala sesuatu kita mulai dulu dari hal-hal kecil dan sedehana. Jika didalam perjalanan membudidayakan ikan di kolam D2 ini berhasil, biasanya akan tumbuh semangat untuk meningkatkan usaha budidayanya, jikapun terjadi kegagalan karena suatu sebab, maka tidak begitu banyak menguras dompet, dan kegagalan itu menjadi Pelajaran berharga untuk berhati-hati, cermat, teliti dan konsisten dalam upaya membudidayakan ikan.

Sekarang kita akan masuk pada penjelasan  mengenai berapa volume kolam D2, secara luasan memang nampak kecil namun secara volume boleh dibilang cukup optimal untuk skala kecil dan rumahan dengan lahan terbatas.

Umumnya volume  air untuk kolam D2 dihitung dengan rumus π x r² x tinggi = ~3,14 x 1 m x 1 m = 3.140 liter atau 3,1 kubik, jika diisi air setinggi 80-90 cm, maka air dalam kolam D2 itu sekitar 2.500 liter sampai 2.800 liter.

Sedangkan kepadatan tebar ideal untuk ikan Nila untuk kolam D2 ini antara 100-150 ekor/mᶟ, sehingga  padat tebar yang dianjurkan antara 300-400 ekor dengan ukuran                          bibit  7-9 cm, diusahakan tidak melebihi jumlah tersebut, apabila  aerasi kolamnya belum kuat atau memadai. Dan prinsipnya kolam bioflok ini ramah lingkungan, karena air biofloknya dapat dimanfaatkan untuk siram tanaman, atau dapat dimanfaatkan pula untuk nutrisi bagi sistem tanaman hidroponik.

I. Persiapan Kolam dan Instalasinya

a. Rangka kolam

Sebaiknya menggunakan terpal A12/LDPE ketebalan minimal 500 micron dengan rangka besi wiremesh (biasanya sudah ada tersedia di marketplace 1 paket lengkap kolam bundar ukuran D2).

b. Sistem aerasi

Sistem aerasi merupakan jantungnya bioflok, aerasi disini artinya ketersediaan oksigen terlarut di dalam kolam yang dibantu dengan mesin pompa oksigen, biasanya bioflok 90% gagal biasanya karena sistem aerasinya kurang.

Aerator yang digunakan untuk kolam D2 minimal pompa 100 Watt seperti aerator merek Resun LP 100 atau Yamano LP 100, mesin ini dapat digunakan untuk 2 atau 3 kolam D2 sekaligus.

Titik aerasi perlu pula menjadi perhatian, pasang 3 – 4 titik aerasi dengan selang yang diberi batu aerasi atau menggunakan uniring/diffuser di dasar kolam. Tujuan dari aerasi ini bukan Cuma oksigen, tapi untuk mengaduk flok biar tidak mengendap dan busuk di dasar kolam .

Target oksigen terlarut atau DO dalam kolam D2  di atas 4 ppm. Jika ikan nila megap-megap dipermukaan kolam itu tandanya oksigen terlarutnya kurang, maka jika hal itu terjadi perlu dilakukan penambahan aerasi.

c. Instalasi sederhana

Sederhananya sistem instalasi kolam bioflok itu adalah proses Listrik > mesin aerator > melalui selang>  kran pembagi > batu aerasi/uniring/diffuser  di dasar kolam, dan perlu pula dipasang atap plastic UV atau paranet 50% di atas kolam, agar suhu air tidak terlalu panas dan air hujan tidak masuk secara berlebihan (jika tidak menggunakan atap)

II. Persiapan air dan pembuatan flok

Sebelum tebar bibit ikan  7 – 14 hari harus dilakukan persiapan air kolam dan pembuatan floknya, disinilah bedanya budidaya kolam biasa dengan kolam sistem bioflok, kita harus mematangkan air kolam terlebih dahulu.

Racikan resep untuk kolam D2 (2.500 liter air) antara lain sebagai berikut:

  1. Kolam diisi air sumur/air Sungai/air PDAM yang sudah diendapkan  1-2 hari sampai ketinggian 80 cm;
  2. Masukan garam krosok 1 kg (1 kg/mᶟ) dengan ditebar secara merata ke dalam kolam untuk sterilisasi ringan mineral air kolam;
  3. Larutkan kapur dolomit mesh size 100 sebanyak 150 gram, dalam proses pelarutan ini kapur di larutkan (diaduk) dengan air terlebih dahulu di dalam ember kapasitas 30 – 50 liter, setelah kapur teraduk rata, dilanjutkan ditebar ke dalam kolam D2 secara merata;
  4. Larutkan molase/tetes tebu sebanyak 250 ml sebagai sumber karbon, jika tidak ada molase dapat diganti dengan gula pasir sebanyak 150 gram (gula pasar ini dilarutkan atau di aduk terlebih dahulu dengan air ke wadah ember sedang)
  5. Masukan probiotik khusus yang sudah jadi, biasanya banyak dijual di toko pertanian atau di Marketplace, usahakan cari yang ada komposisi Bacillus subtilis, Bacillus licheniformis.Dosis awal 10 ml/mᶟ. Contoh merek probiotik yang ada di pasaran : Proflok, Aquancene, atau EM 4 Perikanan;
  6. Beri saripati dedak kurang lebih 500 gr, caranya dedak dalam kolamnya.  

III. Penebaran dan perawatan harian

Setelah kolam tumbuh flok pada hari ke 5-7, langkah selanjutnya dapat ditebar benih ikan nila, jika tersedia benih nila monosex (Jantan semua) akan lebih baik, hal ini dilakukan  agar ikan nila tidak mudah kawin dan cepat besar, karena ikan nila secara biologis siklusnya termasuk ikan yang mudah dan cepat kawin, diusahakan agar benih seragam ukuran 7-9 cm

Ikan sebelum ditebar, dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu ± 15 menit di dalam kolam tanpa membuka kantong plastiknya, setelah  15 menit baru ikan boleh ditebar perlahan dengan membuka ikatan kantong plastiknya.  Untuk tahap awal setelah tebar, ikan dipuasakan 24 jam pertama.

Manajemen harian pemeliharaan ikan dan perawatan kolam sebagai berikut:

NO

Kegiatan

Cara

1

Pemberian Pakan

3% dari biomassa per hari.

Hari 1-30 > 3 kali sehari

Bulan 2-4 > 2 kali sehari

Protein pakan 28-32%

Beri pakan sedikit demi sedikit tapi habis dalam 5 menit

2

Cek Flok

Tiap 3 hari  cek volume flok. Idealnya 20/50 ml/liter. Kalau>100 ml, buang Sebagian dengan cara disiphon dan tambahan air baru 10%

3

Tambah Karbon

Setiap habis kasih pakan, tambahkan molase.

Rumus sederhana :  50% dari berat pakan hari itu, misal pakan 500 gr, molase 250 gr

4

Cek PH dan Amoniak

pH ideal untuk budidaya ikan Nila 6,8 – 8. Amoniak harus <1 ppm, jika pH drop di baeah 6,5 tambahkan kapur dolomit 50 gr.

5

Siphon

Seminggu sekali siphon kotoran yang mengendap di Tengah (pusat kolam) walaupun aerasi sudah kuat

IV. Panen dan siklus ulang

Ikan Nila pada kolam D2 dengan sistem bioflok dapat di panen dalam usia 4-5 bulan setelah tebar dari ukuran 7-9 cm, pada kondisi pertumbuhan normal jika bibit berkualitas pada masa panen 4-5 bulan dapat berukuran 300-400 gram/ekor atau 1 kg isi 3-4 ekor.

Total panen per kolam D2, jika padat tebar 300  ekor x 0,35 kg = ~ 105 kg

Untuk diketahui, air bekas flok jangan dibuang, ini pupuk cair super, dapat menjadi pupuk untuk tanaman sayuran dan pohon buah-buahan. Ini yang membuat sistem bioflok disebut ramah lingkungan dan zero waste.

V. Estimasi Rencana Anggaran Biaya (sesuai dengan kondisi daerah masing-masing)

Perkiraan RAB sistem bioflok Kolam D2 :

No Bahan Perkiraan Anggaran
1 Kolam terpal  D2 + rangka warmesh

Rp. 1.200.000,-

2 Aerator LP 100 (bisa untuk 2 kolam) Rp. 1.800.000,-
3 Selang, batu aerasi, dan kran Rp.    300.000,-
4 Bibit Ikan Nila 400 ekor ukuran 7-9 Rp.     350.000,-
5 Probiotik + molase + garam awal Rp.     150.000,-
6 Pakan awal 1 Sak protein 30-35% Rp.    200.000,-
7 Pakan pembesaran 2 Sak protein 15-25% Rp. 1.300.000,-
     
  T O T A L Rp. 5.300.000,-

Modal awal ± Rp. 5.300.000,- dan panen bisa balik modal di siklus kedua, kalau kematian ikan < 10%.